“Every nation in every region now has a decision to make: Either you are with us or you are with the terrorists.” - Dubya
Saya sering teringat ama kata kata diatas akhir akhir ini, sampe membuat saya berpikir bahwa untuk hal hal tertentu itu kita cukup sulit untuk bersikap objektif. misalnya bila kita bicara tentang tema tema yang sensitif atau tentang tokoh tokoh yang sensitif juga, kayak presiden ke dua dan ke empat [atau khalifah khalifah dalam sejarah]. Mereka yang saya temui pada umumnya hanya mengambil dua sikap tentang dua tokoh ini, kalo nggak anti ya pro abis.
Dan kalo sudah anti, sudah gak ada lagi jasa mereka yang di ingat, tapi kalau sudah pro, seakan akan mereka adalah malaikat dan semua tindakan mereka di carikan alasan untuk pembenarannya. [Kayak kata almarhum Gombloh, “kalo cinta sudah melekat, %^& kucing serasa Coklat”.
Sama jika kita bicara tentang Demokrasi, ada teman gw yang sebenarnya anti kapitalis, lalu menjadi anti demokrasi, dan dalam pandangannya sudah tidak ada manfa’at lagi dari sistem Demokrasi, dan semua kesengsaraan dan bencana di dunia ini adalah akibat itu.
Padahal Demokrasi ada bermacam macam, sebanyak gradasi warna dalam pelangi, yang bikin sedih saya adalah sepertinya tambah banyak sekarang ini yang memakai filter kacamata hitam putih, sehingga semua yang dilihat tereduksi menjadi binari, kalo ga salah ya bener, kalo ga surga ya neraka, kalo ga iman ya kafir, dst.
Gw jadi teringat ama kisah tentang mullah Omar berikut ini:
Mullah Omar adalah seorang panglima perang yang menguasai kota Kandahar. Omar berasal dari keluarga miskin dan buta huruf.
Penjajah dari Utara datang menyerbu negaranya. Omar dan teman temannya bangkit melawan, mereka berjuang tak kenal lelah siang dan malam terus menerus menyulitkan para penjajah. Omar menjadi terkenal karena keberanian dan jiwa pejuangnya, sampai kemudian dia kehilangan sebelah matanya pada pertempuran di pinggiran kota kelahirannya. Setelah lebih dari 10 tahun, para penjajah mundur dari negaranya, tapi mereka meninggalkan kekacauan di negeri itu. Omar dan teman temannya tidak membubarkan pasukan mereka.
Mereka mengambil alih kekuasaan di Kandahar. Omar menjadi penguasa di kota iitu dan daerah di sekelilingnya, Semua kesuksesan ini dia nisbahkan kepada rahmat Tuhan yang Maha Esa, bagaimana dia yang berasal dari keluarga miskin dan buta huruf bisa mencapai kedudukan seperti ini kalau tidak karena karunia-Nya. Dia menyadari bahwa hanya karena Anugrah-Nya lah yang membuat dia bertahan. Kemudian Omar berpikir bahwa memerintah Kandahar adalah tugas suci dari Tuhan. Dengan bermata satu, seperti Dajjal, dia mengklaim sebagai pemimpin kaum beriman, dan mempercayai bahwa dia mengetahui kehendak-Nya. Dia menerapkan hokum Tuhan sesuai dengan pemahamannya yang terbatas.
Sampai pada suatu malam, Mullah Omar bermimpi, dia berdiri di sebuah bayangan gunung besar yang terukir kepala manusia yang sangat besar yang menyerupai kepalanya sendiri. Bumi mulai berguncang seakan akan hendak terjadi gempa, dan kemudian dengan mata kepalanya sendiri dia melihat gunung itu terbelah dan runtuh, kemudian reruntuhan dari gunung itu menimpanya, menguburnya, dan menelan ia hidup hidup. Dalam mimpinya ia menangis, “apa yang telah kulakukan? Mengapa ini terjadi?” Dan Omar mendengar suara sayup sayup berkata “Engkau telah menyembah berhala, hindari hal ini dengan menghancurkan berhalamu”.
Omar bangun dari tidurnya dan berpikir keras, tapi dia tidak juga mendapatkan jawabannya, kemudian dia mengumpulkan para penasihatnya untuk menafsirkan mimpinya, akhirnya mereka menafsirkan mimpi Omar adalah perintah dari Tuhan untuk menghancurkan Patung Besar yang terpahat di gunung di pinggiran kota kecil tidak jauh dari daerahnya yang di buat oleh para penduduk asli ratusan tahun yang silam.
Omar mengerahlan pasukannya ke pegunungan untuk merubuhkan patung ini, walaupun jalan menuju kesana sangat terjal dan berliku. Karena sudah tidak ada yang menyembah patung ini selama beberapa generasi, sangat sedikit yang tahu keberadaaanya dan lebih sedikit lagi yang tahu letaknya. Setelah beberapa waktu pasukan Omar berhasil menghancurkan patung tersebut dan pulang.
Kesuksesan ini membuat Omar semakin yakin, dia semakin percaya diri bahwa dia adalah utusan Tuhan untuk menegakkan hukum Tuhan di muka bumi. Dan demi tujuan ini dia berteman dengan orang orang berbahaya yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, mereka mulai melakukan usaha usaha yang mengakibatkan tewasnya orang orang tidak berdosa, dan membunuh kaum yang tidak mempercayai apa yang mereka percayai. Tetangganya baik yang sekutu maupun lawannya terkejut dan takut atas sikapnya ini.
Aksi aksi ini akhirnya mengakibatkan para penjajah datang kembali ke negaranya, bahkan mereka yang sebelumnya membela Omar. Mereka datang kali ini tidak hanya dari utara, tapi dari segala penjuru mata angin, bahkan rakyatnya sendiri menentangnya. Omar dan para pengikutnya lari ke pegunungan, tapi penjajah datang membom mereka dari udara, dan gunung pun runtuh menimpanya. Omar berkata “Ini seperti mimpiku, tapi saya SUDAH menghancurkan berhala”. Tiba tiba, dia melihat gunung yang ada dalam mimpinya dan lagi lagi dia melihat wajahnya di gunung itu, dan ketika runtuh, dia mendegar suara lembut berkata “Berhala ini tidaklah terbuat dari batu. Berhala ini adalah anggapan kamu bahwa kamu mengetahui kehendak Tuhan”.
Solusi dari masalah kacamata Item-Putih sebenarnya mudah, yaitu jangan berhenti komunikasi, dan berusaha mengerti apa yang ada di “seberang sana” langsung dari sumbernya, bukan dari pihak ke-3.
Seperti ketika Murthada Muthahhari waktu dia mengajar di pesantrennya, dan waktu itu disana komunisme sedang bangkit dan diminati oleh generasi Muda disana karena mereka sudah muak kepada pemerintah disana yang di dukung barat, dan barat waktu itu sedang perang dingin, banyak sudah di tulis buku untuk mengcounter komunisme yang tentu saja penulisnya adalah para ulama yang anti komunis. Tapi yang justru dilakukan oleh MM malah sama sekali tidak menggunakan buku buku tersebut sebagai materi pelajaran, tapi dia sengaja mengundang orang orang komunisme dari Uni Soviet untuk mengajar tentang komunisme kepada anak didiknya di pesantren, alasan beliau adalah kalau kita belajar dari orang yang tidak “mengimani” komunisme, maka akan sulit buat kita mengetahui tentang hal ini. Sayang umur beliau tidak panjang…



0 comments: